DETEKSI DINI KEGAWATDARURATAN PADA KALA I DAN KALA II ( KPD, PERSALINAN LAMA, PERSALINAN KASEP, BUKAN PRESENTASE KEPALA, PERSALINAN DENGAN DISTOSIA EMBOLI AIR KETUBAN DAN GAWAT JANIN PADA PERSALINAN )
1.
Kegawatdaruratan Masa Persalinan Kala I dan Kala II
Kasus kegawatdaruratan
obstetri ialah kasus yang apabila tidak segera ditangani akan berakibat
kesakitan yang berat, bahkan kematian ibu dan janinya. Kasus ini menjadi
penyebab utama kematian ibu, janin, dan bayi baru lahir. Secara umum terdapat
berbagai kasus yang masuk dalam kategori kegawatdaruratan maternal masa
persalinan kala I dan II, dan manifestasi klinik kasus kegawatdaruratan
tersebut berbeda-beda dalam rentang yang cukup luas. Dari berbagai kasus yang
ada, dalam Bab 3 Topik 1 ini Anda akan mempelajari kegawatdaruratan maternal
masa persalinan kala I dan II tentang kasus yang sering dan atau mungkin
terjadi yaitu :
a.
Emboli air ketuban
b.
Distosia bahu
c.
Persalinan dengan kelainan letak janin (sungsang)
d.
Partus lama
e.
Preeklamsia.
1. Identifikasi
kasus kegawatdaruratan maternal masa persalinan Kala I dan Kala II
Yang dapat menyebabkan
keadaan gawatdarurat dalam hal ini
adalah penyulit persalinan yaitu hal-hal yang berhubungan langsung dengan
persalinan yang menyebabkan hambatan bagi persalinan yang lancar. Kategori dalam penyulit persalinan kala I dan II adalah
sebagai berikut :
a.
Emboli air ketuban
b.
Distosia bahu
c.
Persalinan dengan Kelainan letak janin (letak
sungsang)
d.
Partus lama
e.
Preeklamsia
Untuk mencapai kompetensi tersebut,
maka pelajarilah dengan baik uraian tentang teori dalam kasus kegawatdaruratan
maternal masa persalinan kala I dan II berikut ini :
1.EMBOLIAIR KETUBAN
a. Pengertian
Emboli air ketuban merupakan sindrom dimana cairan ketuban
memasuki sirkulasi darah maternal, tiba-tiba terjadi gangguan pernafasan yang
akut dan shock. Sebanyak 25% wanita yang menderita keadaan ini meninggal dalam
waktu 1 jam. Kondisi ini amat jarang dengan perbandingan 1 : 8000 sampai 1 :
30.000. Sampai saat ini mortalitas maternal dalam waktu 30 menit mencapai angka
85%. Meskipun telah diadakan perbaikan sarana ICU dan pemahaman mengenai hal
hal yang dapat menurunkan mortalitas, kejadian ini masih tetap merupakan
penyebab kematian ke III di negara berkembang.
Gambar 1. Bolus cairan ketuban
masuk dalam sirkulasi darah ibu
b. Etiologi
Patofisiologi belum jelas diketahui secara
pasti. Diduga bahwa terjadi kerusakan penghalang fisiologi antara ibu dan janin
sehingga bolus cairan amnion memasuki sirkulasi maternal yang selanjutnya masuk
kedalam sirkulasi paru dan menyebabkan:
•
Kegagalan perfusi secara masif
•
Bronchospasme
•
Renjatan
Akhir akhir ini diduga bahwa terjadi suatu
peristiwa syok anafilaktik akibat adanya antigen janin yang masuk kedalam
sirkulasi ibu dan menyebabkan timbulnya berbagai manifestasi klinik.
Faktor Risiko
Emboli air ketuban dapat terjadi setiap saat
dalam kehamilan namun sebagian besar terjadi pada saat inpartu (70%), pasca
persalinan (11%) dan setelah Sectio Caesar (19%). Yang menjadi faktor risiko
adalah beberapa hal berikut :
1.
Multipara
2.
Solusio plasenta
3.
IUFD
4.
Partus presipitatus
5.
Suction curettahge
6.
Terminasi kehamilan
7.
Trauma abdomen
8.
Versi luar
9.
Amniosentesis
c. Tanda
dan Gejala
1)
Pada umumnya emboli air ketuban terjadi
secara mendadak dan diagnosa emboli air ketuban harus pertama kali dipikirkan
pada pasien hamil yang tiba tiba mengalami kolaps.
2)
Pasien dapat memperlihatkan beberapa
gejala dan tanda yang bervariasi, namun umumnya gejala dan tanda yang terlihat adalah :
•
Sesak
nafas
•
Wajah kebiruan
•
Terjadi gangguan sirkulasi jantung
•
Tekanan darah mendadak turun
•
Nadi kecil/cepat
2. Distosia Bahu
a. Pengertian
Distosia bahu adalah tersangkutnya bahu janin
dan tidak dapat dilahirkan setelah kepala janin dilahirkan. Spong dkk (1995)
menggunakan sebuah kriteria objektif untuk menentukan adanya distosia bahu
yaitu interval waktuantara lahirnya kepala dengan seluruh tubuh. Nilai normal
interval waktu antara persalinan kepala dengan persalinan seluruh tubuh adalah
24 detik, pada distosia bahu 79 detik. Mereka mengusulkan bahwa distosia bahu
adalah bila interval waktu tersebut lebih dari 60 detik. American College of
Obstetrician and Gynecologist (2002): angka kejadian distosia bahu bervariasi
antara 0.6 – 1.4%.
|
|
|
|
Gambar 2.
Distosia Bahu Gambar 3. Perasat McRobert’s
Distosia bahu adalah kondisi darurat
oleh karena bila tidak segera ditangani akan menyebabkan kematian janin dan
terdapat ancaman terjadinya cedera syaraf daerah leher akibat regangan
berlebihan/terjadinya robekan (Widjanarko, 2012).
b. Etiologi
¨
Maternal
•
Kelainan bentuk panggul
•
Diabetes gestasional
•
Kehamilan postmature
•
Riwayat persalinan dengan distosia bahu
Ibu yang pendek.
¨
Fetal
•
Dugaan macrosomia
c. Tanda
dan Gejala
American College
of Obstetricians and Gynecologist (2002) menyatakan bahwa penelitian yang
dilakukan dengan metode evidence based menyimpulkan bahwa :
Sebagian besar kasus distosia bahu
tidak dapat diramalkan atau dicegah
Adanya kehamilan yang melebihi 5000
gram atau dugaan berat badan janin yang dikandung oleh penderita diabetes lebih
dari 4500 gram
3. Persalinan letak
sungsang pada janin
a. Pengertian
Persalinan
letak sungsang adalah persalinan pada bayi dengan presentasi bokong
(sungsang) dimana bayi letaknya sesuai
dengan sumbu badan ibu, kepala berada pada fundus uteri, sedangkan bokong
merupakan bagian terbawah di daerah pintu atas panggul atau simfisis (Manuaba,
1988).
Gambar 4. Macam-macam Letak Sungsang
Pada letak kepala, kepala yang merupakan
bagian terbesar lahir terlebih dahulu, sedangkan pesalinan letak sungsang
justru kepala yang merupakan bagian terbesar bayi akan lahir terakhir.
Persalinan kepala pada letak sungsang tidak mempunyai mekanisme “Maulage”
karena susunan tulang dasar kepala yang rapat dan padat, sehingga hanya
mempunyai waktu 8 menit, setelah badan bayi lahir. Keterbatasan waktu
persalinan kepala dan tidak mempunyai mekanisme maulage dapat menimbulkan
kematian bayi yang besar (Manuaba, 1998).
b. Etiologi
Penyebab letak sungsang dapat berasal dari (Manuaba,
2010):
1)
Faktor ibu
a)
Keadaan rahim
-
Rahim arkuatus
-
Septum pada rahim
-
Uterus dupleks
-
Mioma bersama kehamilan
b)
Keadaan plasenta
-
Plasenta letak rendah
-
Plasena previa
c)
Keadaan jalan lahir
-
Kesempitan panggul
-
Deformitas tulang panggul
-
Terdapat tumor menghalangi jalan lahir
dan perputaran ke posisi kepala
2)
Faktor Janin
Pada janin terdapat berbagai keadaan yang menyebabkan letak
sungsang: Tali pusat pendek atau lilitan tali pusat
-
Hirdosefalus atau anensefalus
-
Kehamilan kembar
-
Hirdramnion atau oligohidramnion
-
Prematuritas
c. Tanda
dan Gejala
¨
Pemeriksaan abdominal
-
Letaknya adalah memanjang.
-
Di atas panggul terasa massa lunak dan
tidak terasa seperti kepala.
-
Pada funfus uteri teraba kepala. Kepala
lebih keras dan lebih bulat dari pada bokong dan kadang-kadang dapat
dipantulkan (Ballotement)
¨
Auskultasi
Denyut jantung janin pada umumnya
ditemukan sedikit lebih tinggi dari umbilikus (Sarwono Prawirohardjo, 2007 :
609). Auskultasi denyut jantung janin dapat terdengar diatas umbilikus jika
bokong janin belum masuk pintu atas panggul. Apabila bokong sudah masuk pintu atas
panggul, denyut jantung janin biasanya terdengar di lokasi yang lebih rendah
(Debbie Holmes dan Philip N. Baker, 2011).
¨
Pemeriksaan dalam
-
Teraba 3 tonjolan tulang yaitu tuber
ossis ischii dan ujung os sakrum Pada bagian di antara 3 tonjolan tulang tersebut dapat diraba
anus.
-
Kadang-kadang pada presentasi bokong
murni sacrum tertarik ke bawah dan teraba oleh jari-jari pemeriksa, sehingga
dapat dikelirukan dengan kepala oleh karena tulang yang keras.
4. Partus lama
a. Pengertian
Partus lama adalah fase laten lebih dari 8
jam. Persalinan telah berlangsung 12 jam atau lebih, bayi belum lahir. Dilatasi
serviks di kanan garis waspada persalinan aktif (Syaifuddin AB, 2002). Partus
lama adalah persalinan yang berlangsung lebih dari 24jam pada primigradiva, dan
lebih dari 18 jam pada multigradiva (Mochtar, 1998).
b. Etiologi
Menurut Saifudin AB, (2007) Pada prinsipnya persalinan lama
dapat disebabkan oleh :
1.
His tidak efisien (inadekuat)
2.
Faktor janin (malpresenstasi,
malposisi, janin besar)
Malpresentasi adalah semua presentasi janin selain vertex
(presentasi bokong, dahi, wajah, atau letak lintang). Malposisi adalah posisi
kepala janin relative terhadap pelvis dengan oksiput sebagai titik referansi.
Janin yang dalam keadaan malpresentasi dan malposisi kemungkinan menyebabkan
partus lama atau partus macet (Saifudin AB, 2007)
3.
Faktor jalan lahir (panggul sempit,
kelainan serviks, vagina, tumor)
Panggul sempit atau disporporsi sefalopelvik terjadi karena
bayi terlalu besar dan pelvic kecil sehingga menyebabkan partus macet. Cara
penilaian serviks yang baik adalah dengan melakukan partus percobaan (trial of
labor). Kegunaan pelvimetre klinis terbatas (Saifudin AB, 2007)
Faktor lain (Predisposisi)
•
Paritas dan Interval kelahiran
(Fraser, MD, 2009)
•
Ketuban Pecah Dini
Ketuban pecah dini (KPD) didefinisikan sebagai pecahnya
ketuban sebelum waktunya melahirkan. Hal ini dapat terjadi pada akhir kehamilan
maupun jauh sebelum waktunya melahirkan. KPD preterm adalah KPD sebelum usia
kehamilan 37 minggu. KPD yang memanjang adalah KPD yang terjadi lebih dari 12
jam sebelum waktunya melahirkan (Sujiyatini, 2009).
Pada ketuban pecah dini bisa menyebabkan persalinan
berlangsung lebih lama dari keadaan normal, dan dapat menyebabkan infeksi.
Infeksi adalah bahaya yang serius yang mengancam ibu dan janinnya, bakteri di
dalam cairan amnion menembus amnion dan menginvasi desidua serta pembuluh
korion sehingga terjadi bakteremia dan sepsis pada ibu dan janin (Wiknjosastro,
2007).
KPD pada usia kehamilan yang lebih dini biasanya disertai
oleh periode laten yang lebih panjang. Pada kehamilan aterm periode laten 24
jam pada 90% pasien
(Scott RJ, 2002).
c. Tanda dan
Gejala
Tabel
1. Diagnosis Kelainan Partus Lama
|
Tanda dan gejala klinis |
Diagnosis |
|
Pembukaan serviks tidak membuka (kurang dari 3 cm), tidak
didapatkan kontraksi uterus |
Belum inpartu, fase
labor |
|
Pembukaan serviks tidak
melewati 3 cm sesudah 8 jam inpartu |
Prolonged laten phase |
|
Pembukaan serviks tidak melewati
garis waspada partograf : § Frekuensi dan lamanya kontraksi kurang dari 3 kontraksi
per 10 menit dan kurang dari 40 detik § Secondary arrest of
dilatation atau arrest of descent § Secondary arrest of
dilatation dan bagian terendah dengan caput
terdapat moulase hebat, edema
serviks, tanda rupture uteri
immenens, fetal dan maternal distress § Kelainan presentasi (selain vertex) |
Inersia uteri
Disporporsi sefalopelvik Obstruksi
Malpresentasi |
|
Pembukaan serviks lengakap, ibu ingin mengedan, tetapi
tidak ada kemajuan (kala II lama/ prolongedsecond
stage) |
|
5. Preeklamsia
a. Pengertian
Preeklamsia adalah peningkatan tekanan darah
yang baru timbul setelah usia kehamilan mencapai 20 minggu, disertai dengan
penambahan berat badan ibu yang cepat akibat tubuh membengkak dan pada
pemeriksaan laboratorium dijumpai protein di dalam urin/proteinuria. (Fadlun,
2013). Preeklamsia adalah suatu sindrom khas kehamilan berupa penurunan perfusi
organ akibat vasospasme dan pengaktifan endotel. (Leveno, 2009). Preeklamsia merupakan suatu penyakit
vasopastik, yang melibatkan banyak sistem dan ditanda i oleh hemokonsentrasi, hipertensi yang
terjadi setelah minggu ke 20 dan proteinuria. (Bobak, 2005).
b. Etiologi
•
Primigravida, 85 % preeklamsi terjadi
pada kehamilan pertama
•
Grande multigravida
•
Janin besar
•
Distensi rahim berlebidan (hidramnion,
hamil kembar, mola hidatidosa)
c. Tanda dan GejalaKriteria minimal dari preeklamsia adalah sebagai berikut :
• Tekanan darah 140/90 mmHg setelah gestasi 20 minggu - Proteinuria 300 mg/24 jam atau1+ pada dipstik Peningkatan kepastian preeklamsia (berat) adalah :
• Tekanan darah 160/110 mmHg
•
Proteinuria 2 g/24 jam atau 2+ pada
dipstik
•
Nyeri kepala menetap atau gangguan
penglihatan
•
Nyeri epigastrium menetap

Komentar
Posting Komentar