Deteksi Dini awal kegawatdaruratan pada kala III (Retensio Plasenta, Inversio Uteri dan Ancaman Robekan Rahim)Kegawatdaruratan pada kala IV ( Perdarahan post partum, Robekan Jalan Lahir)
v Deteksi Dini awal kegawatdaruratan pada kala III (Retensio Plasenta, Inversio Uteri dan Ancaman Robekan Rahim)
Retensio Plasenta
Pengertian
Retensi plasenta adalah
kondisi ketika plasenta atau ari-ari tidak keluar dengan sendirinya atau
tertahan di dalam rahim setelah melahirkan.Kondisi ini sangat berbahaya karena
dapat menyebabkan infeksi, bahkan kematian.Plasenta adalah organ yang terbentuk
di dalam rahim ketika masa kehamilan dimulai.Organ ini berfungsi sebagai
penyedia nutrisi dan oksigen untuk janin, serta sebagai saluran untuk membuang
limbah sisa metabolisme dari darah janin.
Normalnya, plasenta
keluar dari rahim dengan sendirinya beberapa menit setelah bayi
dilahirkan.Namun, pada ibu yang mengalami retensi plasenta, plasenta tidak
keluar dari dalam rahim sampai lewat dari 30 menit setelah persalinan.
Etiologi
Penyebab Retensi
Plasenta
Berdasarkan
penyebabnya, retensi plasenta dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu:
·
Placenta adherens
Retensi
plasenta jenis placenta adherens terjadi ketika kontraksi rahim tidak cukup
kuat untuk mengeluarkan plasenta.Kondisi ini dapat disebabkan oleh kelelahan
pada ibu setelah melahirkan atau karena atonia uteri.Placenta adherens
merupakan jenis retensi plasenta yang paling umum terjadi.
·
Plasenta akreta
Plasenta
akreta terjadi ketika plasenta tumbuh terlalu dalam di dinding rahim sehingga
kontraksi rahim saja tidak dapat mengeluarkan plasenta.Kondisi ini umumnya
disebabkan oleh kelainan pada lapisan rahim akibat menjalani operasi pada rahim
atau operasi caesar pada kehamilan sebelumnya.
·
Trapped placenta
Trapped
placenta adalah kondisi ketika plasenta sudah terlepas dari dinding rahim,
tetapi belum keluar dari rahim.Kondisi ini terjadi akibat menutupnya leher
rahim (serviks) sebelum plasenta keluar.
Faktor
Risiko Retensi Plasenta
Retensi plasenta lebih
berisiko dialami oleh ibu dengan beberapa faktor berikut:
1.
Hamil di usia 30 tahun ke atas
2.
Melahirkan sebelum usia kehamilan
mencapai 34 minggu (kelahiran prematur).
3.
Mengalami proses persalinan yang terlalu
lama
4.
Melahirkan bayi yang mati di dalam
kandungan
Gejala
Retensi Plasenta
Tanda utama retensi
plasenta adalah tertahannya sebagian atau seluruh plasenta di dalam tubuh lebih
dari 30 menit setelah bayi dilahirkan. Keluhan lain yang dapat dialami adalah:
•
Demam
•
Menggigil
•
Nyeri yang berlangsung lama
•
Perdarahan hebat
•
Keluar cairan dan jaringan berbau tidak
sedap dari vagina
Komplikasi
Retensi Plasenta
Retensi plasenta
menyebabkan pembuluh darah yang melekat pada plasenta terus terbuka dan
mengeluarkan darah. Kondisi ini menyebabkan perdarahan pascamelahirkan yang
dapat mengancam nyawa pasien.Komplikasi lain yang dapat terjadi adalah:
•
Infeksi rahim atau endometritis
•
Subinvolusi uteri, yaitu kondisi ketika
rahim tidak kembali ke ukuran normal setelah melahirkan
•
Polip plasenta atau tumbuhnya jaringan
tidak normal pada plasenta
Pencegahan
Retensi Plasenta
Untuk mencegah retensi
plasenta,akan melakukan langkah antisipasi selama proses persalinan, seperti:
•
Memberikan obat-obatan, seperti
oksitosin, segera setelah bayi lahir untuk merangsang kontraksi rahim agar
seluruh plasenta keluar
•
Menjalankan prosedur controlled cord
traction (CCT), yaitu dengan menjepit dan menarik tali pusar bayi sambil
melakukan pijatan ringan pada perut ibu untuk merangsang kontraksi Rahim
•
Selain itu, ibu hamil juga disarankan
untuk menjalani pemeriksaan kehamilan dengan USG secara berkala. Melalui
pemeriksaan ini, dokter bisa mengetahui sejak awal jika pasien memiliki faktor
risiko yang dapat memicu terjadinya retensi plasenta. Dengan begitu, retensi
plasenta dapat diantisipasi dengan persiapan yang matang untuk persalinan.
Inversio Uteri
1.
Pengertian
Inversio uteri dikenal
sebagai rahim terbalik yang terjadi karena komplikasi persalinan.Jelasnya,
kondisi ini hadir ketika bagian rahim atau uteris yang bernama fundus terbalik
menghadap bawah ke arah vagina.
Seharusnya, fundus sendiri
berada di bagian atas dan dekat pada dada.Dalam beberapa kasus, bagian rahim
tersebut ada yang ikut keluar dari leher rahim atau bahkan ikut ke vagina
ketika masa persalinan.inversio uteri adalah suatu kondisi di mana lapisan
terdalam dari rahim (endometrium) turun, bahkan keluar melalui lubang luar
rahim.
2.
Etiologi Inversio
Uterus yang Berhubungan dengan Kehamilan
•
Persalinan lama dan berlangsung lebih
dari 24 jam
•
Sudah pernah melahirkan sebelumnya
•
Rahim lemah
•
Tali pusar janin yang pendek
•
Ibu hamil yang menggunakan obat pelemas
otot saat persalinan
•
Adanya plasenta akreta yang bisa membuat
plasenta tertanam terlalu dalam di dinding Rahim
•
Memiliki riwayat inversio uteri
sebelumnya
•
Tenaga medis yang menarik tali pusat
terlalu keras ketika proses persalinan
•
Plasenta yang mendempel di bagian atas
Rahim
•
Bayi yang tumbuh terlalu besar ketika
masih di dalam kandungan
Gejala
yang bisa menandakan hadirnya kondisi adalah;
•
Benjolan yang keluar dari vagina
•
Pusing
•
Perdarahan hebat
•
Lemas
•
Muncul keringat dingin
•
Napas yang pendek
•
Jantung terasa lebih kencang dari
keadaan normal
•
Tak hanya itu, dokter pun bisa
mendiagnosis seseorang mengalami kondisi ini ketika ia merasa rahimnya tak
berada di posisi yang seharusnya dan diikuti dengan menurunnya tekanan darah
secara drastis.
Pengertian rahim
robek atau yang dalam istilah medis disebut dengan ruptur uteri adalah kondisi
yang terjadi ketika ada robekan pada dinding rahim.Sesuai dengan namanya,
rupture uteri adalah kondisi yang dapat membuat seluruh lapisan dinding rahim
robek sehingga membahayakan kesehatan ibu dan bayinya.Tidak menutup
kemungkinan, ruptur uteri bisa mengakibatkan perdarahan hebat pada ibu dan bayi
yang tertahan di dalam rahim.
Meski begitu, risiko
terjadinya rupture uteri atau rahim robek selama proses persalinan sangatlah
kecil.Angka ini berkisar kurang dari 1 persen atau hanya 1 dari 3 wanita yang
berisiko mengalami ruptur uteri saat melahirkan.
1. Risiko ibu mengalami rahim robek
Risiko ibu mengalami
rahim robek memang meningkat jika pernah melakukan operasi caesar, terutama
bila bekas operasi merupakan sayatan vertikal di bagian atas rahim.Oleh sebab
itu, dokter cenderung menyarankan ibu hamil menghindari persalinan normal
melalui vagina jika sebelumnya pernah melakukan operasi caesar.Selain itu,
faktor risiko ruptur uteri yang lain, di antaranya:
·
Gejala yang timbul yaitu :
- Perdarahan
vagina
- Nyeri
luar biasa saat kontraksi
- Kontraksi
yang lambat atau kurang intens
- Sakit
perut atau nyeri yang tidak biasa
- Resesi
kepala janin (kepala bayi bergerak kembali ke jalan lahir)
- Menggembung
di bawah tulang kemaluan (kepala bayi telah menonjol di luar bekas luka
uterus)
- Rasa
nyeri yang tajam di bagian bekas luka sebelumnya
- Uterus
atonia (melemahnya otot rahim)
- Denyut
jantung cepat dan hipotensi (tekanan darah rendah abnormal)
Robekan
jalan lahir
Etiologi
•
Persalinan pertama
•
Menjalani persalinan dengan alat bantu
•
Bayi dalam kandungan berukuran besar,
berat badan mencapai lebih dari 3,5 kilogram
•
Pernah mengalami robekan vagina pada
persalinan sebelumnya
•
Bayi lahir dengan posisi posterior, atau
kepala di bawah dan menghadap ke perut ibu
•
Menjalani episiotomi
•
Mempunya perineum yang lebih pendek
•
Persalinan berjalan panjang atau harus
mengejan untuk waktu yang lama
•
Usia ibu lebih tua saat melahirkan,
yakni di atas 35 tahun
Gejala :
- Darah segar
yang mengalir segera setelah bayi lahir
- Uterus
kontraksi dan keras
- Plasenta
lengkap, dengan gejala lain
- Pucat, lemah,
dan menggigil
Tingkatan Robekan
Berdasarkan tingkat
robekan, maka robekan perineum, dibagi menadi 4 tingkatan yaitu:
Tingkat I: Robekan
hanya terdapat pada selaput lendir vagina dengan atau tanpa mengenai kulit perineum
Tingkat II: Robekan
mengenai selaput lendir vagina dan otot perinei
transversalis, tetapi tidak mengenai sfringter ani
Tingkat III: Robekan
mengenai seluruh perineum dan otot sfingter ani
Tingkat IV: Robekan
sampai mukosa rectum
Perdarahan Kala IV Primer
Kondisi ini terjadi
ketika kehilangan darah yang sangat banyak hingga lebih dari 500cc dalam 24 jam
setelah melahirkan merupakan suatu kondisi yang abnormal.
Penyebab perdarahan kala IV Primer
•
Tonus/kekuatan otot, keadaan ketika
uterus tidak dapat berkontraksi atau disebut atonia uteri, menyebabkan darah
yang keluar dari uterus tidak dapat berhenti secara alamiah. Hal ini
menyebabkan darah yang keluar semakin banyak dan harus mendapatkan pertolongan.
•
Trauma/cedera, adanya robekan jalan
lahir karena bayi terlalu besar, atau karena penggunaan obat pacu persalinan
yang tidak sesuai dengan aturan dapat menyebabkan kontraksi terlalu kuat dan
robeknya jalan lahir.
•
Jaringan, sisa jaringan plasenta yang
masih menempel pada uterus dapat menyebabkan sumber perdarahan dari jalan
lahir.
•
Faktor pembekuan darah, perdarahan yang
banyak dapat menyebabkan hilangnya faktor-faktor yang dibutuhkan darah untuk
membantu penutupan luka. Selain itu, pengidap kelainan hemofilia, yaitu ketika
darah sukar membeku menyebabkan kelainan perdarahan pasca melahirkan.
Gejala
Perdarahan Postpartum
Pada keadaan yang
normal darah yang keluar segera setelah melahirkan kurang dari 500cc. Namun,
pada keadaan ketika perdarahan postpartum merupakan sebuah kelainan, darah yang
muncul lebih dari 500cc.
•
Keadaan tersebut disertai gejala lain:
•
Darah berwarna merah segar.
•
Nyeri pada perut bawah.
•
Demam.
•
Pernapasan cepat.
•
Keringat dingin.
•
Penurunan kesadaran, mengantuk atau
pingsan.
Pencegahan Perdarahan Postpartum
•
Identifikasi dan koreksi anemia pada ibu
hamil sebelum persalinan.
•
Pemeriksaan tanda vital sebelum
persalinan juga penting untuk mengidentifikasi kemungkinan perdarahan yang terjadi.
•
Untuk petugas kesehatan, manajemen aktif
saat persalinan dan tindakan persalinan yang menghindarkan dari terjadinya
perdarahan pascapersalinan.

Komentar
Posting Komentar