DETEKSI DINI ABNORMALITAS RAHIM (SUBINVOLUTIO UTERI, PERDARAHAN KALA NIFAS SEKUNDER DAN INFEKSI NIFAS)
Abnormalitas Rahim
A.Subinvolutio Uteri
Pengertian
Subinvolusi uterus adalah suatu kondisi medis di mana
setelah melahirkan, rahim tidak kembali ke ukuran normal. Involusi
merupakan proses kembalinya suatu organ ke ukuran semula. Subinvolusi adalah
kegagalan perubahan fisiologis pada sistem reproduksi pada masa nifas yang
terjadi pada setiap organ dan saluran yang reprodukif untuk kembali ke keadaan
tidak hamil.
Uterus (rahim) adalah organ yang paling umum mengalami
subinvolusi. Subinvolusi uterus adalah kegagalan uterus untuk mengikuti pola
normal involusi uterus atau proses involusi yang tidak berjalan sebagaimana
mestinya, sehingga proses pengecilan uterus terhambat. Karena rahim merupakan
organ yang paling mudah diakses untuk diukur, penilaian involusi uterus perlu
dilakukan dalam menilai subinvolusi.
a.Faktor Penyebab:
o
Faktor
predisposisi
o
Infeksi
o
Multiparitas
o
Peregangan
berlebihan pada rahim seperti pada kehamilan kembar dan hidramnion
o
Masalah
kesehatan ibu
o
Operasi
sesar
o
Prolaps
uteri
o
Retroversi
(kelainan bentuk) setelah uterus kembali menjadi organ panggul
o
Fibroid
uterus
o
b.Faktor
yang memberatkan
Tertahannya hasil konsepsi
Sepsis uterus, endometritis
c.Faktor-faktor
lainnya
o
Lokia yang
menetap/perdarahan segar
o
Persalinan
lama
o
anestesi
o
kandung
kemih penuh
o
kelahiran
yang sulit
o
retensio
plasenta
o
ibu infeksi
2.Gejala
Kondisi ini dapat bersifat asimtomatik. Gejala-gejala utama
di antaranya adalah:
·
Keluarnya
lokia abnormal yang berlebihan atau berkepanjangan
·
Perdarahan
uterus yang tidak teratur atau berlebihan
·
Kram
nyeri yang irreguler pada kasus-kasus tertahannya hasil konsepsi atau kenaikan
suhu pada sepsis
3.Tanda-tanda
1. Tinggi uterus adalah lebih besar dari normal pada
hari-hari tertentu dari masa nifas. Uterus saat nifas normal dapat tergantikan
oleh kandung kemih penuh atau rektum yang terisi penuh. Rasanya berlumpur dan
lembut pada palpasi.
2. Adanya tanda khas yang membuat subinvolusi semakin
jelas.
4.komplikasi:
Subinvolusi
uterus menyebabkan
kontraksi uterus menurun sehingga pembuluh darah yang lebar tidak
menutup sempurna, sehingga pendarahan terjadi terus menerus, menyebabkan
permasalahan lainya baik itu infeksi maupun inflamasi pada bagian rahim
terkhususnya endromatrium.
5.pencegahan
·
Antibiotik pada
endometritis
·
Eksplorasi
rahim pada hasil konsepsi tertahan
·
Kerokan
pada sisa plasenta yang tertinggal di dalam uterus.
·
Ergometrine sering diresepkan untuk meningkatkan proses involusi
dengan mengurangi aliran darah dari uterus.
B.Perdarahan kala nifas sekunder
1. Pengertian :
Perdarahan postpartum sekunder yaitu perdarahan postpartum
yang terjadi setelah 24 jam pertama kelahiran. Perdarahan postpartum sekunder
disebabkan oleh infeksi, penyusutan rahim yang tidak baik, atau sisa plasenta
yang tertinggal (Manuaba, 2014).
2.Etiologi
Perdarahan postpartum disebabkan oleh banyak faktor.
Beberapa faktor predisposisi adalah anemia, yang berdasarkan prevalensi di
negara berkembang merupakan penyebab yang paling bermakna. Penyebab perdarahan
postpartum paling sering adalah atonia uteri serta retensio plasenta, penyebab
lain kadang-kadang adalah laserasi serviks atau vagina, ruptur uteri, dan
inversi uteri (Saifuddin, 2014).
Sebab-sebab perdarahan postpartum primer dibagi menjadi
empat kelompok utama:
1) Tone (Atonia Uteri)
Atonia uteri menjadi penyebab pertama perdarahan
postpartum. Perdarahan postpartum bisa dikendalikan melalui kontraksi dan
retraksi serat-serat miometrium. Kontraksi dan retraksi ini menyebabkan
terlipatnya pembuluh-pembuluh darah sehingga aliran darah ke tempat plasenta
menjadi terhenti. Kegagalan mekanisme akibat gangguan fungsi miometrium
dinamakan atonia uteri (Oxorn, 2010).
Diagnosis ditegakkan bila setelah bayi dan plasenta lahir
perdarahan masih ada dan mencapai 500-1000 cc, tinggi fundus uteri masih
setinggi pusat atau lebih dengan kontraksi yang lembek (Saifuddin, 2014).
Pencegahan atonia uteri adalah dengan melakukan manajemen
aktif kala III dengan sebenar-benarnya dan memberikan misoprostol peroral 2-3
tablet (400-600 mcg) segera setelah bayi lahir (Oxorn, 2010).
2) Trauma dan Laserasi
Perdarahan yang cukup banyak dapat terjadi karena robekan
pada saat proses persalinan baik normal maupun dengan tindakan, sehingga
inspeksi harus selalu dilakukan sesudah proses persalinan selesai sehingga
sumber perdarahan dapat dikendalikan. Tempat-tempat perdarahan dapat terjadi di
vulva, vagina, servik, porsio dan uterus (Oxorn, 2010).
3) Tissue (Retensio Plasenta)
Retensio sebagian atau seluruh plasenta dalam rahim akan
mengganggu kontraksi dan retraksi, sinus-sinus darah tetap terbuka, sehingga
menimbulkan perdarahan postpartum. Perdarahan terjadi pada bagian plasenta yang
terlepas dari dinding uterus. Bagian plasenta yang masih melekat merintangi
retraksi miometrium dan perdarahan berlangsung terus sampai sisa organ tersebut
terlepas serta dikeluarkan (Oxorn, 2010).
Retensio plasenta, seluruh atau sebagian, lobus
succenturiata, sebuah kotiledon, atau suatu fragmen plasenta dapat menyebabkan
perdarahan plasenta akpostpartum. Retensio plasenta dapat disebabkan adanya
plasenta akreta, perkreta dan inkreta. Faktor predisposisi terjadinya plasenta
akreta adalah plasenta previa, bekas seksio sesarea, pernah kuret berulang, dan
multiparitas (Saifuddin, 2014).
4) Thrombophilia (Kelainan Perdarahan)
Afibrinogenemia atau hipofibrinogenemia dapat terjadi
setelah abruption placenta, retensio janin-mati yang lama di dalam rahim, dan
pada emboli cairan ketuban. Kegagalan mekanisme pembekuan darah menyebabkan
perdarahan yang tidak dapat dihentikan dengan tindakan yang biasanya dipakai
untuk mengendalikan perdarahan. Secara etiologi bahan thromboplastik yang
timbul dari degenerasi dan autolisis
decidua serta placenta dapat memasuki sirkulasi maternal dan menimbulkan
koagulasi intravaskuler serta penurunan fibrinogen yang beredar (Oxorn, 2010).
5.Gejala Klinis Perdarahan Postpartum
Efek perdarahan banyak bergantung pada volume darah sebelum
hamil, derajat hipervolemia-terinduksi kehamilan, dan derajat anemia saat
persalinan. Gambaran PPP yang dapat mengecohkan adalah kegagalan nadi dan
tekanan darah untuk mengalami perubahan besar sampai terjadi kehilangan darah
sangat banyak. Kehilangan banyak darah tersebut menimbulkan tanda-tanda syok
yaitu penderita pucat, tekanan darah rendah, denyut nadi cepat dan kecil,
ekstrimitas dingin, dan lain-lain (Wiknjosastro, 2012).
6.komplikasi:
- Muncul tanda infeksi, seperti keluarnya cairan berbau dari vagina
atau luka operasi, menggigil, dan demam
hingga suhu tubuh di atas 38oC
- Darah yang keluar berwarna
merah cerah dan kental pada minggu kedua
- Salah satu atau kedua sisi
perut terasa lunak
- Pusing atau merasa ingin
pingsan
- Detak jantung tidak beraturan dan
bertambah cepat
- Gumpalan darah yang keluar
sangat besar atau banya
7.pencegahan:
Hal pertama yang akan dilakukan
bidan untuk menangani perdarahan pascamelahirkan adalah tindakan
untuk menyelamatkan nyawa pasien, terutama bila terjadi syok hipovolemik.
Pasalnya, syok dapat membuat kerja organ tubuh berhenti dengan cepat.
Bidan
dapat memberikan cairan infus atau transfusi darah untuk
mengganti darah yang hilang. Setelah kondisi pasien stabil, dokter akan
berupaya mengendalikan perdarahan sesuai penyebabnya.
Berikut ini adalah beberapa metode yang dapat dilakukan bidan
untuk menangani perdarahan pascamelahirkan:
- Memijat
rahim
Jika perdarahan terjadi karena otot rahim lemas, dokter akan memijat rahim pasien untuk merangsang kontraksi, sehingga perdarahan dapat berhenti. Bidan juga dapat memberikan obat oksitosin untuk memicu kontraksi rahim. Pemberian oksitosin dapat dilakukan melalui dubur, infus, atau disuntikkan langsung ke otot.
- Menekan
pembuluh darah dengan balon khusus
Jika perdarahan disebabkan oleh luka robekan, dokter dapat memasukkan kasa atau balon yang kemudian dikembangkan di dalam rahim. Tujuannya agar pembuluh darah di tempat terjadinya perdarahan tertekan, sehingga darah dapat berhenti keluar.
- Mengeluarkan jaringan sisa plasenta dengan tindakan kuret
Untuk kasus perdarahan yang terjadi akibat jaringan plasenta yang masih tertinggal di dalam rahim (retensi plasenta), bidan menganjurkan kuret dapat
3.Infeksi nifas
- Pengertian
Infeksi pada dan melalui tractus genitalis setelah
persalinan disebut infeksi nifas. Suhu 38°C atau lebih yang terjadi antara hari
ke 2 – 10 post partum dan diukur per oral sedikitnya 4 kali sehari disebut
sebagai morbiditas puerperalis. Kenaikan suhu tubuh yang terjadi di dalam masa
nifas, dianggap sebagai infeksi nifas jika tidak diketemukan sebab – sebab
ekstragenital.
a.Faktor Penyebab
Sebagai bidan, Anda harus mengetahui beberapa factor
predisposisi yang menyebabkan infeksi pada ibu nifas :
1. Kurang gizi atau malnutrisi
2. Anemia
3. Masalah kebersihan
4. Kelelahan
5. Proses persalinan bermasalah seperti partus lama /
macet, korioamnionitis, persalinan traumatik, Pencegahan Infeksi yang tidak
baik, manipulasi intrauteri (ekplorasi uteri dan manual plasenta).
b.Gejala
Nyeri perut bawah, demam rendah, serta keputihan
dan lokia yang berbau busuk (tanda-tanda endometritis)
Area yang terasa sakit, keras, hangat dan merah (biasanya
hanya pada satu payudara) dan demam, menggigil, nyeri otot, kelelahan atau
sakit kepala (tanda-tanda mastitis)
Kemerahan, cairan, pembengkakan, hangat atau meningkatnya
rasa sakit di sekitar area sayatan atau luka. Hal tersebut bisa terjadi di
sayatan operasi caesar, episiotomi atau luka gores, atau sayatan yang
terlihat seperti akan terpisah
Sulit dan nyeri saat buang air kecil, merasa seperti ingin
buang air kecil dengan sering dan mendesak. Namun, hanya sedikit urin, tidak
ada urin yang keluar, atau urin keruh dan berdarah (tanda-tanda infeksi saluran
kemih).
C,komplikasi:
· Infeksi di rahim dapat menyebabkan pembekuan darah, sedangkan infeksi di ginjal dapat menyebabkan gangguan ginjal.
· Infeksi yang masuk ke aliran darah pun dapat menyebabkan sepsis.
· Komplikasi yang paling mungkin terjadi adalah pemulihan pasca persalinan yang lebih sulit.
d.pencegahan:
Berikut adalah gaya
hidup dan pengobatan rumahan yang dapat membantu Anda mengatasi infeksi
postpartum:
·
Mandi dengan antiseptik pada pagi
di hari operasi
·
Cukur rambut kemaluan Anda dengan
clippers dibandingkan dengan pisau cukur
·
Gunakan chlorhexidine-alcohol untuk mempersiapkan kulit
·
Gunakan antibiotik extended-spectrum
sebelum operasi.
Infeksi masa nifas paling sering diobati dengan antibiotik
oral. Misalnya dengan resep obat clindamycin atau gentamicin. Antibiotik akan
disesuaikan dengan jenis bakteri yang dicurigai dokter menjadi penyebab utama
infeks

Komentar
Posting Komentar